Para Perantau telah bermain kucing dan tikus dengan aparat penegak hukum karena mereka bersikeras untuk melakukan perjalanan pulang meskipun pemerintah melarang Idul Fitri mudik tahun ini.

Para perantau di seluruh Jawa telah mencoba mengelak dari polisi di pos-pos pemeriksaan, dengan bersembunyi di dalam kontainer truk atau bagasi bus, menghindari jalan tol dengan keamanan yang ketat dan meletakkan kursi penumpang untuk menghindari pengawasan.

Kepala operasional korps lalu lintas Kepolisian Republik Indonesia Sr. Benyamin mengatakan para perantau telah menggunakan kontainer di belakang truk untuk mengangkut diri dan kendaraan mereka, mengetahui bahwa petugas memprioritaskan pemantauan kendaraan pribadi, bus, dan minibus.

“Sedangkan untuk truk barang, mereka diizinkan beroperasi sehingga ekonomi dapat terus berjalan. Truk-truk ini tampaknya digunakan untuk mengangkut para Perantau dan mobil mereka, ”kata Benyamin, Kamis, seperti dikutip kantor berita Antara.

Pernyataan tersebut menggemakan klaim Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sebelumnya, di mana ia mengatakan telah menerima laporan dan foto yang menunjukkan para perantau kembali ke kota asal mereka di seluruh provinsi, dengan mobil-mobil mereka di dalam kontainer truk.

Benjamin mengatakan bahwa, selain truk, ada juga orang-orang yang bersembunyi di batang bus untuk menghindari penegakan hukum.

“Bus-bus itu penuh dengan orang, tetapi mereka tidak di kursi, mereka berada di bagasi,” tambahnya.

Dia mengatakan polisi juga telah mengumpulkan informasi bahwa beberapa agen perjalanan telah menawarkan layanan bagi mereka yang ingin kembali ke kota asal mereka, menunggang kuda yang disebut jalan tikus.

“Mereka ditangkap oleh Polisi Jakarta di perbatasan Cikarang Barat,” katanya.

Sejak Senin, jumlah kendaraan di jalan tol di Bekasi, Jawa Barat, dan Tangerang, Banten, telah menurun karena para perantau menghindari pos keamanan, tetapi jumlah kendaraan yang dicegat di jalan-jalan arteri telah meningkat, kata Polda Metro Jaya.

Di jalan arteri di Kedungwaringin, Bekasi, misalnya, petugas polisi lalu lintas baru-baru ini menemukan sekelompok pelancong yang menuju Jawa Tengah dengan mengendarai bus dengan kursi penumpang diletakkan di belakang agar tidak terlihat dari luar.

“Para penumpang ini sengaja membaringkan kursi mereka dan mematikan lampu untuk menghindari petugas,” kata juru bicara Polda Metro Jaya Kombes. Yusri Yunus mengatakan pada hari Kamis, seperti dikutip oleh kompas.com.

Yusri mengatakan sopir bus mengaku tidak membawa penumpang ketika bus dihentikan untuk diperiksa di pos keamanan terpadu Kedungwaringin pukul 10 malam. di hari Rabu.

Bus itu bersusun dan semua penumpang kemudian ditemukan bersembunyi di dek atas, polisi melaporkan. Dalam pemeriksaannya, polisi menemukan bahwa penumpang membayar Rp 450.000 (US $ 30,40) per orang untuk naik.

Sejak 24 April, total 171.000 personel polisi dan militer serta agen terkait telah melaksanakan apa yang disebut Operasi Ketupat 2020 untuk mengawasi aliran mudik, yang akan berakhir pada 31 Mei, demikian dilaporkan oleh Kepolisian Nasional.

“Pada hari keenam operasi pada hari Rabu, kami telah meminta sekitar 15.239 pengendara di seluruh Jawa untuk berbalik,” kata Benyamin kepada tempo.co pada hari Kamis, menambahkan bahwa Polisi Jakarta telah mencatat mayoritas dengan 5.834 pengendara.

Meski ketahuan mengabaikan larangan mudik, para pengendara motor hanya ditegur oleh petugas tanpa hukuman hukum. Pelanggar akan dikenakan hukuman maksimum mulai 7 Mei.

Setelah sebelumnya hanya menyarankan warga agar tidak berpartisipasi dalam mudik, Presiden Joko “Jokowi” Widodo akhirnya mengumumkan larangan langsung pada 21 April, setelah survei Kementerian Perhubungan di mana 24 responden masih bersikeras untuk melakukan perjalanan pulang selama Ramadhan.